"rutinitas" malam hari kembali dilakukan, mematikan lampu, dan mengeluarkan gitar dari tempatnya. kualitas gitar ini memang sudah berkurang. hehe.. bunyinya tidak seperti yang kuharapkan. sebagai seorang operator soundsystem, tentu kualitas suara seperti ini cukup "mengganggu" hati nurani. hahaha.. sehingga sering kali jika hadirat Tuhan mulai memekat di kegelapan kamarku, kuputuskan menaruh gitar itu (karena suaranya "dapat" menggangu hadirat Tuhan, hehe..)dan memilih bernyanyi dan MENARI. menari?? haha.. yaa,sudah lama "kebiasaan" ini kulakukan sendiri. biarlah semua tubuhku bisa bebas memuji Tuhan. haha..
hmm.. tetapi hadirat Tuhan tidak ditentukan oleh kualitas bunyi gitar. aku teringat mission trip di jogya januari kemarin. kami diundang mengisi di retret SMA ku. di aula yang berkapasitas 300 orang, ada sekitar 100an orang didalam. cuma ada 1 speaker sedang bermerk peavey. merk sih ok punya. tetapi tetap saja tidak mencukupi buat aula sebesar itu. ditambah semua suara masuk ke speaker itu. yaa, apa boleh buat. lalu ada 2 adik yang jadi WL dan aku dan 1 adik yang lain bermain gitar. dan woww!! luar biasa! ada tarian dan lompatan dimana-mana. ada orang yang mengangkat tangan saat nyanyian dinaikkan. semua bebas memuji Tuhan. hehe.. luar biasa lah.
tapi itu bukan intu dari share ini. itu cuma pembuka saja. hehe..
kembali ke malam itu di kamarku..
ketika kegelapan kamar mulai memekat, beberapa lagu dinaikkan. dan ketika kalimat-kalimat doa mulai keluar, maka ada satu hal yang terlintas di kepalaku. "apakah kasih Yesus tidak kuat?" pertanyaan itu mengalir di kepalaku begitu saja. mengapa ada orang yang begitu cepat dan mudah (semudah membalikkan telapak tangan) berbalik dari kasih Tuhan yang sudah sangat menjamah hidupnya dan berpaling pada dunia? Sebegitu kuatkan dunia ini sehingga memalingkan wajah orang yang sudah pernah dilawat oleh Tuhan?
Langsung teringat di pikiranku saat dimana seorang adik maju ke barisan paling depan di HC untuk didoakan BRK (kalau tidak salah itu HC kedua dia karena HC pertama dia belum dapat BRK). Lalu saat dimana adik yang lain memberi diri jadi pekerja di korps 2012 lalu. Lalu kesediaan adik-adik yang lain ikut berdoa bersama mengelilingi suatu kampus selama 2 minggu penuh. lalu sekarang yang terjadi adalah kondisi rohani mereka naik-turun. Dimanakah api itu?
Allah adalah api yang menghanguskan. Dia akan membakar semua yang ada di sekelilingnya. Pernahkan api meminta ijin untuk membakar sesuatu? Tidak! Api sangat rakus! Tanpa minta ijin dia akan langsung membakar apa yang bisa dia bakar. Jika Allah adalah api, maka saya dan anda adalah objek pembakaran dari api itu. Dan jika saya dan anda terbakar, maka semua yang di sekitar kita akan terbakar dengan sendirinya. Maka pertanyaan sederhana adalah : apakah saya dan anda sedang dalam kondisi terbakar-bakar?
Lihat semua kegiatanmu yang berlabel rohani (SR, PDS, sate, gereja, PA, PI, dll), apakah itu cuma rutinitas belaka sekarang ini? Apakah karena saya seorang leader, seorang abang dan kakak PA, seorang yang sedang dalam pergumulan, dan segudang background lain, sehingga saya harus lakukan semua kegiatan berlabel rohani tadi? Ataukah memang saya rindu temukan Tuhan, dan biarkan Dia membakar hidupku dan api yang sama membakar orang lain (bahkan tanpa kita sadari)?
Bagaimana cara membuktikan kita sedang terbakar-bakar? Mudah sekali. Adakah orang terbakar akibat hidupmu sekarang ini?
satu kali Daud berkata,"cinta akan rumah-Mu menghanguskan aku". cinta adalah api. siapa yang bisa menolak cinta? tidak ada. cinta datang dengan cepat dan tidak terkira, dan akan sulit dilupakan. bisakah saya dan anda menolak cinta? tidak bisa. jika cinta adalah api, maka itu bisa dikobarkan ataupun dipadamkan.
dan seperti biasa, sebuah lagu mengalir di kepalaku :
nyalanya bagai api, yang tak terhentikan
trus mengalir dari hati Bapa
beri kami cinta-Mu, mengenal cinta-MU
hidup dalam gelora hati-Mu, mengalirkan kasih-MU
Tampilkan postingan dengan label praise and worship. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label praise and worship. Tampilkan semua postingan
Senin, 11 Februari 2013
Jumat, 22 Mei 2009
Manfaatkan sesi praise and worship saat ibadah dengan maksimal
Kita tahu bahwa pemberian terbesar yang sudah Tuhan berikan adalah keselamatan bagi kita. Tuhan juga seorang yang Maha kasih dan pemurah. Jadi Dia sangat mudah memberi banyak hal pada kita. Walaupun kita tidak minta, Dia selalu memberi. Contohnya napas, kesehatan, keamanan, otak untuk berpikir, kekuatan untuk mengerjakan sesuatu, dan banyak hal vital lainnya. Kita tidak bisa berkata pada Tuhan agar kita jangan diberi sesuatu lagi. Jika diibaratkan, maka pemberian Tuhan pada kita itu seperti aliran sungai yang mengalir dan tidak bisa dihentikan. Kita tidak dapat berkata pada sungai tersebut agar berhenti saja mengalir. Demikian juga dengan segala pemberian dari Tuhan. Semua pemberian itu akan mengalir non stop tanpa henti bagaimana pun kondisi kita. Entah kita sedang dekat dengan Tuhan atau sedang jatuh dalam dosa. Jika kita orang yang bermoral, seharusnya kita membalas semua pemberian yang Tuhan berikan. Apalagi jika kita sudah tahu bahwa pemberian itu tanpa batas.
Jika kita perhatikan semua sesi dalam suatu ibadah, sesi-sesinya atau liturginya tidak jauh dari sesi doa, pujian dan penyembahan, Firman Tuhan, persembahan, warta jemaat atau pengumuman, dan berkat dan pengutusan. Sesi tambahan lainnya biasanya ada perjamuan kudus, kesaksian dari jemaat, atau beberapa sesi lainnya. Tapi kurang lebih semua liturgi ibadah gereja seperti yang sudah disebutkan tadi. Jika kita perhatikan, maka sesi yang berisi pemberian khusus dari kita pada Tuhan hanya sesi pujian dan penyembahan. Yang lainnya sesi untuk kepentingan jemaat sendiri. doa biasanya berisi permohonan bukan pemberian. Firman berisi pemberian dari Tuhan pada kita bukan sebaliknya. Persembahan memang pemberian pada Tuhan, tapi persembahan digunakan untuk kepentingan pelayanan gereja. Warta jemaat jelas-jelas tidak berisi pemberian khusus kita pada Tuhan. Perjamuan kudus berisi pemberian Tuhan juga bagi kita. Kesaksian berisi pemberian juga pada jemaat. Jadi hanya sesi pujian dan penyembahan saja yang berisi pemberian khusus kita pada Tuhan.
Jika kita sudah tahu hal ini, maka seharusnya kita maksimal dalam sesi ini. Ini sesi yang sangat penting. Mungkin kita sering melihat ada jemaat yang tidak ikut menyanyi saat sesi pujian penyembahan ini. Ada yang lemas-lemas saja. Ada yang datang terlambat ke ibadah sehingga melewatkan sesi ini. Bahkan banyak jemaat yang sama sekali tidak peduli sesi ini dan hanya mementingkan sesi Firman Tuhan. Jadi apabila sesi Firman Tuhan tidak sesuai dengan yang diharapkan atau khotbahnya tidak bagus menurutnya, maka ia akan pulang ke rumah dengan wajah biasa saja karena merasa tidak mendapat apa-apa. Hey! Mari ubah pola pikir kita. Kita sudah mendapat pemberian terbesar dari Tuhan berupa keselamatan, kita juga sudah tahu bahwa pemberian dari Tuhan itu tanpa henti, sudah sepantasnya kita tidak lagi memikirkan “apa yang kudapat”, tetapi berpikirlah “apa yang bisa saya berikan pada Tuhan”. Dan sekali lagi, satu-satunya sesi yang berisi pemberian khusus kita pada Tuhan hanya sesi pujian dan penyembahan.
Tidak ada maksud untuk “merendahkan” sesi yang lainnya. Tetapi mari kita mulai serius mengikuti sesi pujian dan penyembahan ini. Maksimalkan semua daya, tenaga, dan pikiran kita di sesi ini. Kita bisa “mengistirahatkan” tenaga kita saat sesi Firman Tuhan atau warta. Karena biasanya sesi ini jemaat boleh duduk. Jadi, hanya sesi pujian dan penyembahan saja kita dituntut untuk “lebih berkeringat” dari sesi lainnya.
So, jangan pernah malas untuk menyanyi dan bersorak dalam sesi pujian dan penyembahan ini. Apalagi sampai melewatkan sesi ini. Maksimalkan diri kita!
GO GET GLORY!
gogetglory.blogspot.com
Jika kita perhatikan semua sesi dalam suatu ibadah, sesi-sesinya atau liturginya tidak jauh dari sesi doa, pujian dan penyembahan, Firman Tuhan, persembahan, warta jemaat atau pengumuman, dan berkat dan pengutusan. Sesi tambahan lainnya biasanya ada perjamuan kudus, kesaksian dari jemaat, atau beberapa sesi lainnya. Tapi kurang lebih semua liturgi ibadah gereja seperti yang sudah disebutkan tadi. Jika kita perhatikan, maka sesi yang berisi pemberian khusus dari kita pada Tuhan hanya sesi pujian dan penyembahan. Yang lainnya sesi untuk kepentingan jemaat sendiri. doa biasanya berisi permohonan bukan pemberian. Firman berisi pemberian dari Tuhan pada kita bukan sebaliknya. Persembahan memang pemberian pada Tuhan, tapi persembahan digunakan untuk kepentingan pelayanan gereja. Warta jemaat jelas-jelas tidak berisi pemberian khusus kita pada Tuhan. Perjamuan kudus berisi pemberian Tuhan juga bagi kita. Kesaksian berisi pemberian juga pada jemaat. Jadi hanya sesi pujian dan penyembahan saja yang berisi pemberian khusus kita pada Tuhan.
Jika kita sudah tahu hal ini, maka seharusnya kita maksimal dalam sesi ini. Ini sesi yang sangat penting. Mungkin kita sering melihat ada jemaat yang tidak ikut menyanyi saat sesi pujian penyembahan ini. Ada yang lemas-lemas saja. Ada yang datang terlambat ke ibadah sehingga melewatkan sesi ini. Bahkan banyak jemaat yang sama sekali tidak peduli sesi ini dan hanya mementingkan sesi Firman Tuhan. Jadi apabila sesi Firman Tuhan tidak sesuai dengan yang diharapkan atau khotbahnya tidak bagus menurutnya, maka ia akan pulang ke rumah dengan wajah biasa saja karena merasa tidak mendapat apa-apa. Hey! Mari ubah pola pikir kita. Kita sudah mendapat pemberian terbesar dari Tuhan berupa keselamatan, kita juga sudah tahu bahwa pemberian dari Tuhan itu tanpa henti, sudah sepantasnya kita tidak lagi memikirkan “apa yang kudapat”, tetapi berpikirlah “apa yang bisa saya berikan pada Tuhan”. Dan sekali lagi, satu-satunya sesi yang berisi pemberian khusus kita pada Tuhan hanya sesi pujian dan penyembahan.
Tidak ada maksud untuk “merendahkan” sesi yang lainnya. Tetapi mari kita mulai serius mengikuti sesi pujian dan penyembahan ini. Maksimalkan semua daya, tenaga, dan pikiran kita di sesi ini. Kita bisa “mengistirahatkan” tenaga kita saat sesi Firman Tuhan atau warta. Karena biasanya sesi ini jemaat boleh duduk. Jadi, hanya sesi pujian dan penyembahan saja kita dituntut untuk “lebih berkeringat” dari sesi lainnya.
So, jangan pernah malas untuk menyanyi dan bersorak dalam sesi pujian dan penyembahan ini. Apalagi sampai melewatkan sesi ini. Maksimalkan diri kita!
GO GET GLORY!
gogetglory.blogspot.com
Selasa, 12 Mei 2009
Jangan asal menyembah
Aku berasal dari lingkungan gereja kharismatik. Dimana pada aliran ini biasanya sangat kental dengan suguhan praise and worship yang fullband. Ibadahnya menggunakan alat-alat music “berat”, ada lompatan dan tarian, juga ada sorakan dan lainnya. Dan biasanya pada sesi worship, ada kalanya WL (worship leader) memberi kesempatan pada jemaat untuk menaikkan pujiannya secara pribadi pada Tuhan. Ada yang mulai berbahasa lidah, atau ada juga yang menaikkan mazmur bagi Tuhan.
Aku menyukai sesi praise and worship dalam suatu ibadah. Aku tipe orang yang suka “berekspresi” dan “tidak bisa diam” dalam ibadah. Tanganku akan terangkat otomatis pada saat pujian penyembahan dinaikkan, kakiku juga mulai ikut bergerak, pokoknya aku gak bisa diam. Aku paling gak nyaman kalau ibadah dan badanku kaku tidak berekspresi apalagi kalau lagu yang dinyanyikan “mendukung” untuk bergerak. Aku juga suka menaikkan mazmur secara pribadi pada Tuhan pada sesi ini. Mulutku mulai mengeluarkan kata-kata yang memuji Tuhan. Aku mulai berkreasi dalam menaikkan pujian baru bagi Tuhan. Misalnya bilang Tuhan baik, ajaib, perbuatan-Nya besar, Dia kudus, bersyukur untuk kasih karunia Tuhan, minta kemuliaan Tuhan turun, dan banyak lagi dah. Tapi baru-baru ini Roh Kudus mengingatkanku tentang hal menaikkan mazmur dan pujian baru bagi Tuhan. Roh Kudus sudah pernah membukakan ini pada semester 1 aku di ITB. Dan Dia mengingatkan aku lagi baru-baru ini.
Daud adalah salah satu pemazmur terbesar yang pernah ada. Aku sempat berpikir darimana Daud mendapat inspirasi untuk membuat itu semua. Mustahil daud membuat banyak mazmur tanpa ada inspirasi yang jelas. Daud tidak sedang asal membuat mazmur bagi Tuhan. Aku mulai berpikir. Dan akhirnya aku dapat jawabannya. Mazmur yang ditulis oleh Daud adalah hasil pergaulannya sendiri dengan Tuhan. Bukan dibuat-buat atau Daud mereka-reka siapa Tuhan. Jika Daud mengatakan bahwa Tuhan adalah gunung batunya, itu karena Daud merasakan sendiri bahwa Tuhan lah gunung batunya. Jika Daud berkata bahwa jika ia berseru pada Tuhan dan Tuhan menjawabnya, itu juga sudah dialaminya. Jika Daud berkata bahwa Tuhan adalah pahlawan perang, itu karena Daud sendiri sudah merasakan bahwa Tuhan yang berperang bagi dia. Daud lalu menyebut Tuhan adalah hakim yang adil, itu juga karena dia sudah merasakan keadilan Tuhan. Banyak dari mazmur yang ditulis oleh Daud pada ayat sesudah judul ada sedikit cerita atau latar belakang mengapa mazmur tersebut dibuat. Itu artinya semua yang dirasakan oleh Daud digubahnya menjadi sebuah lantunan mazmur yang indah. Daud sedang tidak mendengar bahwa dekat Tuhan itu ada tenang dan damai lalu dia buat mazmur 62. Tapi dia sudah merasakannya sendiri.
Lalu kesimpulan apa yang kita dapat???
Ada baiknya mazmur dan pujian baru yang kita naikkan pada Tuhan sudah pernah kita alami sendiri. jika kita berkata bahwa Tuhan itu adalah sumber kekuatan, maka itu karena kita sudah merasakan sendiri bahwa dalam kondisi susah, Tuhan adalah sumber kekuatan kita. Bukannya karena hanya ingin memperdengarkan mazmur kita saja atau hanya sekedar memuji, atau bahkan hanya mendengar dari kesaksian orang lain. Saya beri ilustrasi, jika saya mempunyai seorang pacar dan ternyata pacar saya itu sangat pelit. Tetapi supaya kedengaran pada orang lain bahwa pacar saya itu orangnya tidak pelit, saya mulai berkata pada teman saya bahwa saya baru dibelikan sebuah jam tangan baru dan bermerek oleh pacar saya. Menurut anda, apakah saya sedang berkata benar saat itu? Hanya untuk menjaga image kita, maka kita mulai berkata sesuatu yang tidak sesuai kenyataan atau belum pernah kita alami sendiri. begitu halnya dengan mazmur kita pada Tuhan. Kita merasa belum pernah merasakan keadilan Tuhan bahkan mempertanyakan tentang keadilan Tuhan lalu kita bermazmur bahwa Tuhan itu adil. Ohh! Itu suatu penipuan kawan! Kita bermazmur bahwa Tuhan itu adalah penyembuh tetapi kemarin kita baru saja “menggugat” tentang “kredibilitas” Tuhan dalam hal menyembuhkan sakit kita saat kita sakit dan berdoa minta disembuhkan lalu Tuhan “baru” menyembuhkan setelah 3 hari dan setelah kita merasakan sakit yang luar biasa. Hmm! Kita baru saja “menjilat ludah sendiri” (sorry).
So, jangan asal menyembah Tuhan. Biarlah kita sendiri sudah mengalaminya sendiri dulu. Aku tidak melarang, tetapi alangkah baiknya jika kita sudah mengalami Tuhan terlebih dahulu. Hmm, lagi-lagi soal pengenalan akan Tuhan. Jangan kita menipu diri sendiri saat sedang menyembah Tuhan. Katakan saja apa yang sudah pernah kita alami dan rasakan sendiri. hal ini justru akan membuat kita lebih termotivasi untuk mengenal Tuhan lebih dalam lagi. Selamat bermazmur!
Hos 6:6 Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.
GO GET GLORY!
Aku menyukai sesi praise and worship dalam suatu ibadah. Aku tipe orang yang suka “berekspresi” dan “tidak bisa diam” dalam ibadah. Tanganku akan terangkat otomatis pada saat pujian penyembahan dinaikkan, kakiku juga mulai ikut bergerak, pokoknya aku gak bisa diam. Aku paling gak nyaman kalau ibadah dan badanku kaku tidak berekspresi apalagi kalau lagu yang dinyanyikan “mendukung” untuk bergerak. Aku juga suka menaikkan mazmur secara pribadi pada Tuhan pada sesi ini. Mulutku mulai mengeluarkan kata-kata yang memuji Tuhan. Aku mulai berkreasi dalam menaikkan pujian baru bagi Tuhan. Misalnya bilang Tuhan baik, ajaib, perbuatan-Nya besar, Dia kudus, bersyukur untuk kasih karunia Tuhan, minta kemuliaan Tuhan turun, dan banyak lagi dah. Tapi baru-baru ini Roh Kudus mengingatkanku tentang hal menaikkan mazmur dan pujian baru bagi Tuhan. Roh Kudus sudah pernah membukakan ini pada semester 1 aku di ITB. Dan Dia mengingatkan aku lagi baru-baru ini.
Daud adalah salah satu pemazmur terbesar yang pernah ada. Aku sempat berpikir darimana Daud mendapat inspirasi untuk membuat itu semua. Mustahil daud membuat banyak mazmur tanpa ada inspirasi yang jelas. Daud tidak sedang asal membuat mazmur bagi Tuhan. Aku mulai berpikir. Dan akhirnya aku dapat jawabannya. Mazmur yang ditulis oleh Daud adalah hasil pergaulannya sendiri dengan Tuhan. Bukan dibuat-buat atau Daud mereka-reka siapa Tuhan. Jika Daud mengatakan bahwa Tuhan adalah gunung batunya, itu karena Daud merasakan sendiri bahwa Tuhan lah gunung batunya. Jika Daud berkata bahwa jika ia berseru pada Tuhan dan Tuhan menjawabnya, itu juga sudah dialaminya. Jika Daud berkata bahwa Tuhan adalah pahlawan perang, itu karena Daud sendiri sudah merasakan bahwa Tuhan yang berperang bagi dia. Daud lalu menyebut Tuhan adalah hakim yang adil, itu juga karena dia sudah merasakan keadilan Tuhan. Banyak dari mazmur yang ditulis oleh Daud pada ayat sesudah judul ada sedikit cerita atau latar belakang mengapa mazmur tersebut dibuat. Itu artinya semua yang dirasakan oleh Daud digubahnya menjadi sebuah lantunan mazmur yang indah. Daud sedang tidak mendengar bahwa dekat Tuhan itu ada tenang dan damai lalu dia buat mazmur 62. Tapi dia sudah merasakannya sendiri.
Lalu kesimpulan apa yang kita dapat???
Ada baiknya mazmur dan pujian baru yang kita naikkan pada Tuhan sudah pernah kita alami sendiri. jika kita berkata bahwa Tuhan itu adalah sumber kekuatan, maka itu karena kita sudah merasakan sendiri bahwa dalam kondisi susah, Tuhan adalah sumber kekuatan kita. Bukannya karena hanya ingin memperdengarkan mazmur kita saja atau hanya sekedar memuji, atau bahkan hanya mendengar dari kesaksian orang lain. Saya beri ilustrasi, jika saya mempunyai seorang pacar dan ternyata pacar saya itu sangat pelit. Tetapi supaya kedengaran pada orang lain bahwa pacar saya itu orangnya tidak pelit, saya mulai berkata pada teman saya bahwa saya baru dibelikan sebuah jam tangan baru dan bermerek oleh pacar saya. Menurut anda, apakah saya sedang berkata benar saat itu? Hanya untuk menjaga image kita, maka kita mulai berkata sesuatu yang tidak sesuai kenyataan atau belum pernah kita alami sendiri. begitu halnya dengan mazmur kita pada Tuhan. Kita merasa belum pernah merasakan keadilan Tuhan bahkan mempertanyakan tentang keadilan Tuhan lalu kita bermazmur bahwa Tuhan itu adil. Ohh! Itu suatu penipuan kawan! Kita bermazmur bahwa Tuhan itu adalah penyembuh tetapi kemarin kita baru saja “menggugat” tentang “kredibilitas” Tuhan dalam hal menyembuhkan sakit kita saat kita sakit dan berdoa minta disembuhkan lalu Tuhan “baru” menyembuhkan setelah 3 hari dan setelah kita merasakan sakit yang luar biasa. Hmm! Kita baru saja “menjilat ludah sendiri” (sorry).
So, jangan asal menyembah Tuhan. Biarlah kita sendiri sudah mengalaminya sendiri dulu. Aku tidak melarang, tetapi alangkah baiknya jika kita sudah mengalami Tuhan terlebih dahulu. Hmm, lagi-lagi soal pengenalan akan Tuhan. Jangan kita menipu diri sendiri saat sedang menyembah Tuhan. Katakan saja apa yang sudah pernah kita alami dan rasakan sendiri. hal ini justru akan membuat kita lebih termotivasi untuk mengenal Tuhan lebih dalam lagi. Selamat bermazmur!
Hos 6:6 Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.
GO GET GLORY!
Langganan:
Postingan (Atom)
